Pertanyaan “setelah ini akan kemana?” akan terus tetap berputar di kepala hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Minggu lalu akibat kegalauan tingkat akut, saya diceramahin banyak, banyak banget, sampe ga inget apa yang dia omongin ke saya. “Katanya ya, cara untuk memutus rantai kegalauan itu dengan cara memutuskan”, begitu yang saya dapat darinya, padahal dia juga dapet dari temannya. Memutuskan untuk berjalan, memutuskan untuk mencari informasi kesana kemari agar kegalauan yang dihadapi itu semakin berkurang. Kalo ga ada aksi tentu tak ada reaksi dong. Jika hanya diam saja, maka akan hanya ada pikiran sendiri, dan monolog monolog yang berujung pada pembunuhan optimisme dan tumbuhnya benih keputusasaan serta ketidakbergunaan diri. Yeah. Air yang mengalir tentu akan lebih jernin daripada air yang disimpan dalam wadah.
Ide ini sudah terlintas sejak masih kuliah dulu: bikin tempat belajar/bermain di lingkungan sekitar rumah buat anak2 SD. Bahkan saya menuliskan cita-cita ini di lembar ujian mata kuliah kewirausahaan. Hahaha, sungguh ga nyambung. Idenya sih berangkat dari banyaknya anak2 di sekitar rumah saya yang berasal dari golongan menengah kebawah yang terlihat bebas. Bebas disini maksudnya kurang dibimbing sama orang tua mereka, karena kesibukan para orang tua mereka untuk mencari nafkah. Sering saya lihat anak-anak itu bergerombol jalan-jalan keliling komplek/perumahan dan dengan usilnya mengganggu rumah-rumah yang ada disana. Dengan mencet bel trus kaburlah, dengan ngambil buah dari pohon orang lah, ngebel rumah terus minta-minta duit lah, bahkan dulu ada yang kerjaannya minta beras karena disuruh orang tuanya. Juga terlihat dari bahasa yang mereka gunakan. Isi kebun binatang pada berhamburan. Cerita lain adalah ketika saya mendengar anak tukang jahit langganan si mamah harus pindah ke sekolah ke SD B yang jaraknya lebih jauh, yang kualitasnya lebih rendah dari sekolah A, tempat ia sekolah sebelumnya. Alasannya karena, “Di sekolah A mah terlalu tinggi”. Terlalu tinggi apanya? saya aga bingung.. Terlalu tinggi tekanan dari guru-gurunya yang meminta kepada orang tua untuk membimbing anak-anaknya, padaha si orang tua yang berprofesi sebagai tukang jahit dengan pendapatan yang tidak seberapa, harus kerja siang malem buat menyelesaikan pesanan pelanggan. Juga terlalu tinggi gaya hidup teman-temannya. Maklum sekolah A memang berada ditengah-tengah perumahan orang berada. Walaupun biaya sekolah gratis karena ada program BOS, namun pengeluaran tektek bengek tetap saja ada. Hasilnya anak tukang jahit itu harus rela menempuh perjalanan sekolah lebih jauh. Tidak hanya dia ternyata, anak assisten rumah tangga di rumah sebelah juga harus menghadapi hal seperti itu, pindah sekolah.
Saya sedikit gelisah melihat kenyataan dan mendengar cerita kaya gitu. Ingin rasanya berbuat sesuatu. Ya minimal saya melakukan hal untuk orang-orang terdekat saya. 10 tahun lebih saya sekolah, menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah dan tidak pernah turun membantu mereka yang dekat yang butuh bantuan. Lalu munculah keinginan untuk membuat sebuah kegiatan sepulang sekolah. Belum puguh juga konsepnya seperti apa. Yang jelas kepingin saya sih mengajak anak-anak tersebut berkegiatan, mengenalkan pengetahuan, menggali potensi mereka, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan buat mereka. Tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan dari saya. Saya belum secara langsung mensurvey keadaan lapangan sesungguhnya, belum mengidentifikasi kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi. Banyak hal yang masih harus dilakukan. Saya ga akan sendirian. Saya tau banyak teman-teman yang akan membantu saya :). Hehehehe..
Mungkin ini salah satu cita-cita saya sekarang. Insya Allah, semoga Allah tetap memberikan keteguhan di hati saya ini.